Sebuah Catatan Dari Rapat Kerja MYCOM Kab. Banggai
Oleh: Bidang Humas Muslim Youth Community Kabupaten Banggai
Seorang pemikir besar Islam bernama Hasan Al Banna mengatakan bahwa kunci perubahan sebuah bangsa dimulai dari perubahan generasi mudanya. Oleh karenanya, semangat inilah yang diusung Muslim Youth Community (MYCOM) Kabupaten Kabupaten Banggai dalam Rapat Kerja yang dilaksanakan pada hari Ahad (18/11) kemarin di SMA Negeri 3 Luwuk.
MYCOM adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang memiliki konsentrasi pada pembinaan akhlak generasi muda muslim, khususnya pelajar, di Kabupaten Banggai. Dengan motto "Be Religious, Be Smart, Be Cool", MYCOM memfokuskan kegiatannya pada peningkatan kualitas tiga aspek utama yang dimiliki oleh para pelajar, yakni aspek hati (religius), aspek akal (smart), dan aspek material (cool).
Hal ini sangatlah penting, karena posisi strategis yang dimiliki oleh pemuda, dalam hal ini pelajar, sebagai generasi penerus bangsa ini. Bahkan Hasan Al Banna berkata bahwa "Pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda adalah rahasia kekuatannya. Dalam setiap pemikiran, pemuda adalah pengibar panji-panjinya.” Sehingga, MYCOM menilai bahwa pembinaan generasi muda islam, khususnya pembinaan akhlaq dan kompetensi mereka, sangat diperlukan oleh sebuah bangsa yang mengharapkan masa depan lebih baik. Ini dikarenakan pemuda adalah iron stock sebuah generasi. Di tangan para pemuda inilah nasib bangsa ini dipertaruhkan, dua puluh atau tiga puluh tahun ke depan. Muhammad Anis Matta menyebut generasi muda ini sebagai energi peradaban yang mengalirkan sungai sejarah.
Adapun MYCOM berpendapat bahwa ada tiga peran strategis pemuda yang memengaruhi kontribusinya terhadap masa depan kita umat dan bangsa. Ketiga peran tersebut adalah, pemuda sebagai generasi penerus, pemuda sebagai generasi pengganti, dan pemuda sebagai generasi pembaharu. Tentu saja titik tekan peran ini adalah berorientasi kepada kebaikan dan perbaikan.
Pemuda sebagai generasi penerus adalah sebuah fungsi yang diwariskan oleh para pendahulunya berupa sistem dan nilai kepada generasi setelahnya. Fungsi ini sangat bergantung kepada kualitas generasi sebelumnya. Apabila generasi itu adalah generasi yang buruk, maka kualitas generasi sesudahnya pun juga akan buruk. Oleh karenanya, disinilah fungsi para orangtua, guru, dan praktisi pendidikan dalam melakukan transfer nilai yang positif kepada generasi penerus mereka, baik itu anak-anak maupun siswa. Jadi, bilamana ada keburukan yang melanda generasi muda sekarang ini, maka kepada para orangtua saya sarankan untuk berintrospeksi diri. Karena bisa jadi keburukan mereka terjadi karena kitalah yang berperan untuk mewariskan keburukan itu kepada mereka.
Yang kedua adalah peran pemuda sebagai generasi pengganti. Pemikiran ini kami sandarkan pada firman Allah dalam surat Al Maidah ayat 54 yang berbunyi bahwa kelak Allah akan menggantikan suatu kaum dengan kaum yang lebih baik darinya jika kaum yang digantikan itu telah melakukan keburukan-keburukan yang sukar untuk diperbaiki. Para pemudalah yang seharusnya memiliki saham terbesar dalam penggantian generasi tersebut. Dan ini lagi-lagi bergantung pada sejauhmana interaksi pemuda dengan kebaikan dan kebenaran dalam keseharian mereka.
Peran ketiga yang diemban pemuda adalah sebagai generasi pembaharu. Inilah yang sama-sama pernah kita saksikan melalui sejarah perjalanan bangsa ini dimana diwarnai oleh gerakan pemuda sebagai kaum reformer atas kejumudan (kepasifan) yang melanda generasi sebelumnya. Sejarah telah mencatat para generasi muda di tahun 1928, 1966, dan 1998 dalam mengusung perubahan di negeri ini. Kita mengenal Hasan Al Banna di Mesir, Fidel Castro dan Che Guevara di Kuba, Tito di Yugoslavia, serta Fahri Hamzah dan Mustafa Kamal di Indonesia. Merekalah tokoh-tokoh muda yang menjadi gerbong reformasi di negaranya masing-masing.
Ketiga peran utama itu jika tidak dibingkai dengan pedoman dan bimbingan yang benar, maka bisa dipastikan akan berubah ke arah yang buruk, yang tentu saja akan berefek jangka panjang bagi umat dan bangsa ini. Oleh karenanya, MYCOM Kabupaten Banggai mencoba untuk mengambil peran itu lewat beberapa program kerjanya yang sudah ditetapkan dalam Rapat Kerja beberapa hari yang lalu. Hal ini kami lakukan karena kecintaan kami kepada bangsa dan umat ini dan bukan demi mencari hal-hal selainnya. Adapun kontribusi yang MYCOM coba tawarkan adalah dengan program pembinaan yang memadukan unsur hati, akal, dan raga melalui sarana yang fun, fresh, focus, dan friendly, tentunya sesuai dengan nilai-nilai keislaman.
Program tersebut akan dikemas sesuai dengan karakteristik dakwah di kalangan pemuda yang khas dan unik. Dalam hal ini, MYCOM berharap agar dapat terjalin kerjasama yang konstruktif dan produktif dengan pihak-pihak yang terkait seperti para praktisi pendidikan dan juga pemerintah, sehingga agenda ini dapat terealisir dengan baik.
MYCOM juga menyerukan kepada seluruh warga masyarakat Kabupaten Banggai yang masih peduli dengan kemajuan umat dan daerah ini di masa depan untuk mengambil posisi-posisi strategis terkait dengan pembinaan kualitas generasi muda kita, khususnya para pelajar. Harapannya, dari ikhtiar kita tersebut akan lahir generasi-generasi yang unggul dan memiliki kualitas moral yang baik. Karena kalau bukan kita, maka siapa lagi yang akan melakukannya? Ikhtiar inilah yang kami sebut sebagai "Kerja besar untuk perubahan besar". Semoga Allah swt meridhoi ikhtiar ini. Amin.
***
Jumat, 30 November 2007
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar